Risalah Mujahidin Edisi 43: Parlemen Setan

“Ketika orang-orang kafir dan iblis berada di neraka, mereka saling menyalahkan: Demi Allah, sungguh di dunia dahulu kita semua benar-benar sesat. Wahai iblis, ketika di dunia kami mengikuti kamu seperti orang-orang mukmin menaati Allah, Tuhan penguasa seluruh alam. Yang menyesatkan kami di dunia dahulu hanyalah setan dan para pemimpin kami yang kafir. Mengapa sekarang tidak ada seorang pun yang mau menolong kami? Bahkan teman akrab kami pun tidak ada yang mau menolong kami. Alangkah baiknya sekiranya kami dapat kembali ke dunia sekali lagi, lalu kami menjadi orang-orang yang beriman.” (Qs. Asy-Syua’ara [26):96-102)

Risalahmujahidin.com – Suasana konflik di kalangan penghuni neraka di akhirat kelak, antara pengikut dan yang diikuti, antara umat dan pemimpin, antara rakyat dan penguasa; terjadi akibat salah jalan kala di dunia. Mereka saling menyalahkan, karena rakyat baru menyadari bahwa mereka telah dijerumuskan ke dalam jurang kesesatan oleh iblis yang muncul dalam sosok pemimpin atau penguasa sesat di dunia. Tapi, dalam kehidupan akhirat, penguasa yang diharapkan dapat menolong, ternyata tidak mampu berbuat apapun menghadapi adzab neraka.

Propagandis iblis inilah yang digambarkan oleh Muhammad Iqbal dalam diwan (prosa) tentang parlemen iblis dengan sangat menakjubkan. Iblis beserta kolega-kolega dan para pembantunya sedang berkumpul dalam suatu majelis permusyawaratan. Mereka membahas kondisi dunia, bahaya-bahaya yang mengancam serta berbagai fenomena sosial dan politik yang dikhawatirkan dapat meruntuhkan Kerajaan Iblis serta eksistensi para setan berikut kepentingan-kepentingan mereka di dunia ini.

Muhammad Iqbal lahir di Sialkot, Punjab, India, 9 November 1877, dan meninggal di Lahore, 21 April 1938 pada usia 60 tahun. Iqbal dikagumi sebagai penyair klasik yang paling menonjol di kalangan sarjana-sarjana sastra di Pakistan, India, maupun secara internasional. Meskipun Iqbal lebih dikenal sebagai seorang penyair, tapi ia juga seorang politisi, dan filsuf besar abad ke-20.

Sebagian besar sajak-sajak Iqbal ditulis dalam bahasa Urdu dan Persia. Seperti Syikva (Keluhan), Javab-i-Syikva (Jawaban atas Keluhan), Asrar-i-Khudi (Rahasia Diri), Rumuz-i-Bekhudi (Misteri Penyangkalan Diri), Bang-i-Dara (Panggilan Lonceng), Piyam-i-Masyrik (Pesan dari Timur), Zabur-i-Ajam (Kidung Persi), Javid Namah (Kitab Keadilan), Bal-i-Jibril (Sayap Jibril), dan lain-lain.

Ketika mempelajari hukum dan filsafat di Inggris, Iqbal menjadi anggota “All India Muslim League” cabang London. Pada 1922, ia diberi gelar bangsawan oleh Raja George V, dan memberinya titel “Sir”.

Dalam salah satu ceramahnya yang paling terkenal, Iqbal mendorong pembentukan negara Muslim di Barat Daya India. Ceramah ini diutarakan pada ceramah kepresidenannya di Liga pada sesi Desember 1930. Saat itu ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Quid-i-Azam Mohammad Ali Jinnah.

Adapun kumpulan ceramah dan kuliahnya terdapat dalam The Reconstruction of Religious Though of Islam. Selain menulis syair, Iqbal juga menulis artikel dalam bidang filsafat, ekonomi, politik, hukum, dan sastera dalam bahasa Ingris.

Iqbal dikenal sebagai Shair-e-Mushriq yang berarti “Pujangga dari Timur”. Ia juga disebut sebagai Mufakir-e-Pakistan (“The Inceptor of Pakistan”) dan Hakeem-ul-Ummat (“The Sage of the Ummah”). Di Iran dan Afghanistan ia terkenal sebagai Iqbāl-e Lāhorī  ‎ “Iqbal dari Lahore”), dan sangat dihargai atas karya-karya berbahasa Persia-nya. Penghargaan pemerintah Pakistan atas jasa besarnya, Iqbal digelari sebagai “Pujangga Nasional”, dan hari kelahirannya dijadikan sebagai hari libur nasional di Pakistan.

Parlemen Iblis

Syekh Hasan Ali An-Nadwi dalam bukunya “Ma Dza Khasiral Alam bi Inkhithathil Muslimin?” (Kerugian Apa yang Diderita Dunia, dengan Kemerosotan Kaum Muslimin), mengungkapkan antologi Iqbal yang terkenal berjudul Iblis ki Majlis-i-Syra (Parelemen Iblis).

Dalam antologi tersebut, Iqbal menggambarkan anggota Parlemen Iblis, yaitu para setan tengah bermusyawarah mengenai taktik dan strategi menyesatkan manusia. Musyawarah yang dipimpin dedengkot para setan, yaitu Iblis, terungkap sejumlah kendala strategi yang dianggap membahayakan idealisme mereka.

Seorang tokoh setan mengkhawatirkan keberadaan Negara republik yang akan menghapus Negara kerajaan. Setan yang lain membantahnya dan mengatakan bahwa tidak masalah Negara itu berbentuk republik asalkan jiwa-jiwa yang memimpin Negara itu adalah kerajaan. Setan lainnya mengkhawatirkan tumbuhnya sosialisme, tapi dibantah oleh setan lain lagi. Hingga akhirnya Iblis menutup siding, dan membuat kesimpulan bahwa hanya Islam dan umat Islam yang sadar keislamannya lah yang membahayakan mereka.

Kaum Muslim diibaratkan bunga api yang pada suatu saat nanti akan berkobar dan membumi hanguskan Parlemen Iblis. Oleh karena itu segala potensi kejahatan dan kesesatan harus bersinergi untuk menentang musuh utama ini. Sekalipun seluruh anggota parlemen iblis menyadari, mereka tidak akan mampu menghancurkan kekuatan Islam, setidaknya mereka berusaha untuk memukau kaum Muslim agar berenang dalam lautan kemewahan duniawi.

Berikut ini, suasana sidang anggota Dewan Permusyawaratan Rakyat Iblis (DPRI), yang terdiri dari para setan dengan ketua sidang Iblis la’natullah, karya pujangga Muhammad Iqbal.

Sidang Parlemen Iblis

Sidang paripurna DPRI dimulai dengan mengemukakan pendapat umum dari seluruh anggota parlemen. Salah seorang anggota mengemukakan pendapatnya, bahwa telah muncul bahaya dari ide-ide baru tentang demokrasi dan sistem pemerintahan republik.

Anggota parlemen yang lain angkat bicara: “Tidak usah khawatir dengan system republik, karena itu cuma sekedar selimut tebal (kamuflase) dari sistem kerajaan (monarchi). Sebenarnya kita jugalah yang mendorong sistem kerajaan menjadi sistem republik, mengingat mulai munculnya kesadaran akan harga diri yang dapat mendorong manusia untuk berontak dari sistem yang telah kita paksakan selama ini. Tentu saja bila hal itu terjadi akan sangat berbahaya bagi kepemimpinan yang sedang berada di tangan kita.

Oleh sebab itu, tipuan tersebut terpaksa kita lakukan melalui demokrasi dan sistem republik. Sebenarnya hakikat monarchi tidak hanya sebatas pada seorang raja yang memegang kekuasaan penuh saja, melainkan juga merupakan cara hidup (way of life) dimana penguasa (raja) menghisap rakyatnya dan memperbudak manusia atas manusia. Bukankah saudara tahu, bahwa sistem republik yang ada sekarang ini cuma luarnya saja, tetapi inti dalamnya adalah lebih kejam dan lebih kelam dari bathinnya seorang Jengis Khan!”

Anggota parlemen yang lain menjawab, yang ditujukan pada ketua sidang: “Ketua Majelis yang mulia, walaupun pemimpin-pemimpin dunia tersebut merupakan para eksekutifmu yang setia, tetapi aku mulai tidak percaya pada kemampuan dan kecakapan mereka! Sekarang ini saja si Samiri yang menganut agama Yahudi yang pada hakekatnya duplikat agama Mazdak (Tokoh Sosialis Parsi yang terkenal) telah hampir meruntuhkan pondasi dunia bersama pengikut-pengikutnya yang telah melengserkan raja-raja dengan hujatan dan kepalan tangan mereka. Dulu kita memang menganggap enteng bahaya sosialisme ini, tetapi kenyataannya sekarang telah berkembang menjadi suatu ancaman yang besar bagi kita para setan. Saya khawatir Ketua Majelis yang mulia, dunia yang selama ini tuan perintah akan berbalik 180 derajat dari apa yang kita harapkan dan idam-idamkan!”

Mendengar berbagai pendapat dan opini para anggota parlemen, maka Ketua DPRI, Iblis la’tullah menyampaikan pandangannya: “Pimpinan atas dunia ini berada ditanganku, Aku dapat berbuat sesuka hatiku. Dunia akan menyaksikan keanehan pada saat aku sudah mengadu domba sesama bangsa Eropa. Mereka akan gigit menggigit seperti anjing berkelahi, dan akan terkam menerkam seperti serigala. Yaitu pada saat aku sudah memebisiki telinga para pemimpin politik dan para pembesar kerohanian di gereja-gereja, mereka akan kehilangan pikiran sehat dan akan berbuat kegila-gilaan.

Mengenai sosialisme yang kalian sebut-sebut itu, hendaklah kalian percaya bahwa fitrah manusia tidak dapat di belokan oleh logika mazdak ataupun filsafat sosialisme. Aku sama sekali tidak takut menghadapi budak-budak sosialis, kaum jembel yang tolol itu! Yang sangat ku takuti justru bahaya umat yang masih menyimpan semangat hidup dan cita-cita luhur di dalam jiwanya. Di dalam umat tersebut masih terdapat orang-orang yang siang malam giat bersembah sujud kepada Allah, dan air matanya selalu membasahi pipi karena sangat takut kepada Allah. Bagi orang yang berpengalaman dan mempunyai kekuatan firasat pasti menyadari bahwa Islamlah bahaya hari esok dan bencana hari depan bukan sosialisme.

Aku tahu bahwa sekarang ini banyak umat islam yang meniggalkan Al-Quran dan sedang dirangsang oleh harta kekayaan. Mereka sedang rindu ingin mengumpulkan dan menyimpan harta sebanyak banyaknya, sama seperti umat manusia lainnya. Aku tahu bahwa malam di timur amat gelap gulita, dan akupun tahu bahwa para ulama Islam dan para pemimpinnya tidak mempunyai tangan putih yang memancarkan sinar cahaya yang dapat menembus kegelapan dan menerangi dunia. Akan tetapi aku khawatir sekali kalau-kalau cobaan dan ujian yang sedang dihadapi oleh umat Islam dewasa ini akan dapat membangkitkan mereka dari tidur dan mengarahkan mereka kembali kepada syariat Muhammad Saw.

Kalian kuperingatkan, bahwa agama Muhammad Saw, adalah agama yang tangguh melindungi pusakanya, pengawal kehormatan dan penjaga keselamatnya, agama keluhuran dan kemuliaan, agama kejujuran dan kesucian, agama kemanusiaan dan kepahlawanan, agama yang berjuang menghapuskan segala bentuk perbudakan, melenyapkan sisa-sisa penghambaan manusia oleh manusia, agama yang tidak membeda-bedakan antara si tuan dan si budak, agama yang tidak mengistimewakan orang yang berkuasa dari kaum yang sengsara, agama yang dengan zakat memberesihkan harta dari noda dan kotoran hingga menjadi bersih dan murni, agama yang menjadikan para pemilik harta sebagai manusia-manusia yang memperoleh kepercayaan Allah untuk dititipi kekayaan. Cobalah kalian renungkan, adakah revolusi atau perubahan kekuasaan yang lebih besar bahayanya dari pada yang akan dicetuskan oleh agama itu, pada saat sudah menguasai alam pikiran dan menjiwai alam pikiran manusia? Yaitu pada saat manusia sudah mulai berteriak: Bumi ini adalah milik Allah, bukan milik raja-raja atau sultan-sultan!

Oleh karena itu kalian harus mencurahkan segala kekuatan untuk membuat agama itu tetap jauh dari pandangan mata manusia. Kalian harus giat bekerja agar setiap orang Muslim lemah kepercayaannya kepada Tuhan, dan tipis keyakinannya terhadap agama Islam. Adalah lebih baik bagi kita bila setiap orang Muslim terus-menerus sibuk dan tenggelam menekuni ilmu kalam dan ilmu-ilmu ketuhanan (teologi) lainnya. Biarlah mereka sibuk menta’wilkan kitab Allah dan ayat-ayat suci seenaknya sendiri. Tutuplah telinga setiap orang Muslim rapat-rapat, karena dengan kumandang adzan dan gema takbir ia dapat menghancurkan jimat-jimat dan mantera-mantera di dunia serta sanggup menggagalkan sihir kita. Kalian harus bekerja keras agar setiap orang Muslimin tidur nyenyak lebih lama agar kesanggupannya datang terlambat.

Hai teman-teman, buatlah supaya setiap orang Muslim tidak bekerja sungguh-sungguh dan bermalas-malas, agar ia tertinggal dalam perlombaan di dunia ini. Adalah sangat baik bagi kita bila setiap orang Muslim menjadi budak orang lian, meninggalkan dan menjauhi kehidupan dunia ini serta menyerahkannya kepada orang lain. Alangkah celakanya kita bila umat Islam, karena dorongan agamanya akan sanggup mengawasi dan menyelamatkan dunia ini dari kehancuran!”

Demikianlah Muhammad Iqbal mengingatkan agar kaum Muslimin senantiasa waspada terhadap serangan Iblis serta tipuan sistem hidup Setanisme seperti demokrasi, sosialisme, komunisme, kapitalisme, dan syi’ah.

———————–

Makalah ini dimuat juga pada Majalah Risalah Mujahidin edisi 43. Baca selengkapnya dan daptkan majalahnya.

Pemesanan:

http://risalahmujahidin.com/pemesanan/

Informasi Perubahan Harga Majalah Risalah Mujahidin Per edisi 41 (edisi Oktober 2015) dan selanjutnya menjadi:

  • Harga Jawa Rp. 15.000,-
  • Harga Luar Jawa Rp. 16.000,-

Harap maklum…

Tags: , , , , , , , , , , ,

One response to “Risalah Mujahidin Edisi 43: Parlemen Setan”

Berikan Komentar