Risalah Mujahidin Edisi 40: Menguatkan NKRI Berlandaskan Tauhid

Upaya menggembosi perhelatan Parade Tauhid, mulai dari pengunduran diri pengarah acara secara mendadak, para orator yang berjanji hadir tapi tidak hadir tanpa kabar berita. Kemudian, adanya ormas yang menarik dukungannya sambil melihat situasi aman, hingga bungkamnya seluruh media nasional, bahkan aksi provokator. Semuanya gagal. Kesetiaan ratusan ribu kaum Muslimin mewakili umat bertauhid di negeri ini dengan dikawal para mujahid, dan kerinduan untuk bersatu di bawah naungan bendera tauhid, mampu mengalahkan segala muslihat yang tidak bersahabat itu.

Risalah Mujahidin – GELOMBANG lautan manusia berpakaian putih-putih seperti laiknya melakukan sa’i, berzikir menyesaki sepenuh jalan protokol di sepanjang Jalan Sudirman, dari Pintu 7 Senayan ke bundaran HI (Hotel Indonesia) di Jakarta, bolak-balik pada hari Minggu pagi 16 Agustus 2015. Secara bergelombang, dengan berimpitan, beratus ribu jamaah dari beratus ormas Islam ‘itu juga berpayung’ dengan gelaran spanduk yang juga berwarna putih berhiaskan kalimat thayyibah sepanjang 3.000 meter, menggelorakan kekuatan kalimat Tauhid, sebagai unjuk kekuatan sekaligus bukti ketaatan bertauhid hanya kepada Allah Swt, Tuhan yang Mahaesa.

Unjuk kekuatan umat, untuk ke sekian kali kembali mempertontonkan atraksi dan menabalkan bahwa kalimat tauhid yang mengesakan Allah memang hanya milik umat Islam. Inilah Parade Tauhid Indonesia (PTI) menyambut 70 tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia. Maka tak berlebihan bila salah seorang pemrakarsa parade, Bachtiar Nasir menyatakan bahwa PTI mempertontonkan kekuatan Islam, ukhuwah Islamiah, solidaritas umat, demi menjaga tegaknya NKRI. Lebih dari itu, parade tauhid merupakan ajang untuk memperbaiki cara berpikir seluruh masyarakat Indonesia.

ParadeTauhidIndonesia-13“Parade tauhid ini untuk memperbaiki cara berpikir demi menegakkan NKRI, bukan sebaliknya seperti yang dikhawatirkan sebagian orang,” ujar Sekjen Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) itu.

Parade Tauhid Indonesia, sebagai unjuk kekuatan dakwah Islam, menurut Wakil Amir Majelis Mujahidin (MM) Abu Moh. Jibril Abdurrahman telah disunnahkan oleh Rasulullah Saw. Parade menegakkan kalimat tauhid ini ada sunnahnya, katanya di panggung kehormatan menjelang parade dipergelarkan. Parade Islam pertama kali dilakukan oleh Rasulullah Saw dengan memimpin parade tauhid, membentuk barisan-barisan (kekuatan) yang rapi, pada sebuah kesempatan. Di barisan pertama ada Umar Ibn Khaththab, dan pada barisan kedua Hamzah ibn Abdul Mutholib tampil di depan.

Parade Tauhid “barisan Islam” di masa Nabi al-Musthafa itu, dipertontonkan sedemikian rapi, solid, dan menggelegar, menunjukkan rapinya kekuatan dan juga soliditas Islam. Dan kalimat tauhid pun dikumandangkan, kata Ustadz Haekal menimpali. “Inilah yang menjadi daya tarik, sekaligus menggetarkan kaum Quraisy,” katanya. Dan dengan Parade Tauhid Indonesia, Abu Jibril menegaskan, diharapkan hal ini menjadi starting point ukhuwah Islamiah dalam perjuangan penegakan syariat Islam di Indonesia,” katanya. Sebuah gagasan yang sebenarnya dapat efektif dilakukan melalui parlemen. Kendatipun kini, dari seluruh partai, hanya tinggal Partai PBB saja yang bercita-cita menegakkan syariat Islam.

Syahdan, sungguh lain pula memang yang muncul di ranah lapangan. Beratus ribu umat yang menggelar kekuatan Islam memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70 ini menumpahi seruas jalanan di sepanjang jalur Car Free Day (CFD) di tengah hiruk pikuk seluruh masyarakat Jakarta yang menggelar berbagai lomba juga dalam kerangka merayakan kemerdekaan Indonesia. Yang barangkali membedakannya, sebarisan “pasukan” putih-putih itu tampil benar-benar rapi, disiplin, dan bahkan mereka memunguti sendiri sampah-sampah kecil yang dilewatinya.

Tak kurang dari 100-an “pasukan parade” memang telah dipersiapkan untuk memunguti sampah dari botol air mineral atau plastik bekas makanan dan minuman yang menyertai sebarisan para “Tauhid Indonesia”. Inilah yang rupanya menarik perhatian serang polisi aparat keamanan, dan sempat memotret relawan berkaos Laskar Mujahidin yang tengah memunguti sampah di jalanan. Sehingga parade sebarisan pendakwah Islam ini tidak saja sebuah tontonan parade yang bersih, juga membersihkan, sebagaimana gambaran air yang suci semestinya juga mensucikan atau setidaknya menjaga kesuciannya.

ParadeTauhidIndonesia-34Parade Tauhid Indonesia memulai acara dengan orasi dan tausyiah sejumlah ulama. Seperti Ustadz Bachtiar Nasir selaku pemrakarsa gelaran di Jakarta, lalu Ketua FPI Habib Riziq, Ustadz Fadlan Garamatan, Ustadz Abu Jibril, dan gelontoran bahana zikir yang dipimpin langsung ustadz Arifin Ilham. Ustadz Ilham seperti sengaja melepas sepasukan berzikir itu untuk kemudian berarak sembari mengumandangkan asma Allah, dengan menggelar spanduk putih sepanjang berkilo meter yang bertuliskan kalimat-kalimat tauhid—yang hanya dimiliki kaum Muslimin.

Memang kata tauhid di sini memiliki makna yang mendalam, jauh menghunjam ke bumi atau ke akar paling bawah manakala sudi kembali ke sejarah pembentukan Republik. Adalah Ki Bagus Hadikoesoemo, Ketua Pengurus Besar (sekarang namanya Pimpinan Pusat) Muhammadiyah, yang ketika itu sebagai Anggota BPUPKI dan PPKI, yang memaknai Ketuhanan yang Maha Esa sebagai tauhid. Inilah sesungguhnya yang melatarbelakangi pemaknaan khas Islami dan pula latar sejarah diterimanya kata Ketuhanan yang Maha Esa untuk menggantikan “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Tauhid Landasan Negara

Kata bermula dari Ki Bagus Hadikoesoemo(1890-1954). Pidatonya yang amat bersejarah—matan (isi) pidato Ki Bagus sempat hilang selama lebih dari seperempat abad di masa pemerintahan Presiden Soeharto—pada 31 Mei 1945 dalam sidang BPUPKI, Ki Bagus menawarkan gagasan Islam sebagai dasar negara. Soekarno menyambut hangat gagasan Ki Bagus. Dalam apresiasinya yang sangat tinggi terhadap Ki Bagus, sebagaimana terbukti pada pidato 1 Juni 1945 Soekarno menyebut nama Ki Bagus tidak kurang dari sepuluh kali. Kendati pun Soekarno menawarkan dasar kebangsaan (nationale staat) bagi Negara Indonesia yang akan dibentuk, akan tetapi, Negara Indonesia yang berdasar kebangsaan itu, menurut Soekarno, hendaknya bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berulang kali Soekarno menekankan: “Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang ber-Tuhan!”

Dalam perkembangannya kemudian terumuskanlah Pancasila dengan sila pertama: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, sebagaimana kesepakatan pada Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Namun, akhirnya menjadi Ketuhanan yang Maha Esa pada sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945, terutama setelah Ki Bagus berhasil diyakinkan oleh beberapa tokoh Islam seperti Kasman Singodimejo dan Mr. Teuku M. Hassan, dan Ki Bagus bersama tokoh-tokoh Islam itu memaknai Ketuhanan yang Maha Esa itu sebagai tauhid. Maka tak berlebihan kemudian H.S. Prodjokoesoemo, menulis dalam Suara Muhammadiyah Nomor 8/63 (1983) halaman 24-25, dengan judul “Kunci Pancasila di Tangan Ki Bagus Hadikusumo”.

Sebagaimana termaktub pada memoar “Hidup Itu Berjuang: Kasman Singodimedjo 75 Tahun”, Kasman menceritakan bagaimana ia mendatangi Ki Bagus dan berkomunikasi dengan bahasa kromo inggil untuk meyakinkan Ki Bagus agar luluh menerima perubahan Piagam Jakarta. Kepada Ki Bagus, Kasman Singodimedjo mengatakan, “Kiai, tidakkah bijaksana jikalau kita sekarang sebagai umat Islam yang mayoritas ini sementara mengalah, yakni menghapus tujuh kata termaksud demi kemenangan cita-cita kita bersama, yakni tercapainya Indonesia merdeka sebagai Negara yang berdaulat, adil, makmur, tenang tenteram, diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Kasman Singodimedjo—yang sebenarnya adalah anggota baru, yang baru saja dimasukkan sebagai Anggota PPKI—dalam memoarnya juga menjelaskan bahwa perubahan itu diusulkan oleh Hatta. Drama penghapusan tujuh kata itu sendiri berlangsung sekitar 15 menit. K.H. Abdul Wachid Hasjim dan Teuku Muhammad Hassan (yang juga baru dimasukkan sebagai anggota baru PPKI mewakili Sumatra) yang ikut dalam lobi itu menganggap Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan yang lainnya. Kasman Singodimedjo menegaskan, Ketuhanan yang Maha Esa menentukan arti Ketuhanan dalam Pancasila. “Sekali lagi bukan Ketuhanan sembarang Ketuhanan, tetapi yang dikenal Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa,” demikian Kasman Singodimedjo meyakinkan Ki Bagus.

Tak berhenti di situ. Kasman (yang kemudian menjadi Ketua MPR RI yang pertama), pada waktu itu, untuk lebih meyakinkan, Kasman menjelaskan kepada Ki Bagus janji Soekarno yang mengatakan bahwa enam bulan lagi akan ada sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk membuat undang-undang yang sempurna. Di sanalah nanti kelompok Islam bisa kembali mengajukan gagasan-gagasan Islam. Soekarno ketika itu mengatakan, bahwa ini adalah Undang-Undang Dasar sementara dan dalam suasana yang lebih tenteram, kita tentu akan mengumpulkan kembali Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dapat membuat UUD yang lebih lengkap dan sempurna. Begitu Kasman menirukan kata-kata Soekarno. (Kini UUD 1945 telah diamandemen empat tahap sehingga berubah total menjadi 199 pasal UUD NRI Tahun 1945).

Dan Kasman sukses melobi dan meyakinkan Ki Bagus sehingga pada 15 menit terakhir pertemuannya dengan Bung Hatta dan sejumlah tokoh bangsa lainnya di PPKI menyetujui penghapusan tujuh kata dalam UUD 1945. ”Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, berubah menjadi, ”Ketuhanan Yang Maha Esa.” Hikmah besar yang perlu dimaklumi di balik itu: Bahwa pada peristiwa tersebut, paling tidak dapat dicatat bahwa Ki Bagus telah memberi teladan tentang hidup berbangsa, memprioritaskan persatuan dan kesatuan bangsa daripada kepentingan golongan. Meski teguh dalam memegang prinsip dasar negara Islam, akan tetapi demi keutuhan NKRI, Ki Bagus mengikhlaskan penghapusan tujuh kata dalam Pembukaan UUD 1945.Akan tetapi, ternyata sikap mengalah itu menjadi mimpi buruk bagi umat Islam hingga sekarang.

Tak lupa perlu pula dikisahkan, ketika Prawoto Mangkusasmito bertanya tentang arti Ketuhanan Yang Maha Esa, Ki Bagus menjawab “Tauhid.” Lebih dari itu, sebenarnya Ki Bagus juga kembali mengajukan amandemen, rumus Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab diubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Usul amandemen ini juga diterima. Itulah sebabnya Projokusumo mengatakan bahwa kunci Pancasila sebetulnya ada di tangan Ki Bagus.

Tauhid Kata Kunci Ki Bagus

Maka bolehlah dikatakan, jika saja kunci Pancasila ini tidak diberikan, jika saja misalnya Ki Bagus menolak usulan pencoretan 7 kata, dan jikalau saja Ki Bagus memimpin sebuah perlawanan kepada negara, seperti yang dilakukan oleh SM Kartosuwirjo karena terkecewakan oleh proses-proses politik yang terjadi, maka sejarah perkembangan bangsa dan negara Indonesia akan berbeda. Dan kekecewaan Kartosuwiryo pun terbukti benar, Indonesia hampir tak bisa diselamatkan dari keterpurukan hingga kini.

Meskipun secara pribadi kecewa, akan tetapi Ki Bagus tetap tampil sebagai seorang pemimpin Muslim patriot dan nasionalis yang sederhana dan ulet/tangguh yang telah memberikan sumbangan politik dan konstitusional yang sangat besar bagi bangsa. Dengan kenegarawanannya, maka tak berlebihan bila sejumlah pihak, terutama Muhammadiyah, mengajukan Ki Bagus Hadikusuma ditetapkan menjadi Pahlawan nasional, menyusul Moh. Natsir dan Syafruddin Prawiranegara.

Kini, setelah Parade Tauhid Indonesia, tentu tak sekadar berparade, tapi bagaimana kalimat tauhid secara konkret termanifestasikan dalam ayunan langkah segenap kekuatan umat Islam untuk ukhuwah Islamiah, menjaga persatuan dan kesatuan. Kemudian secara bersama-sama menjaga dan mengisi NKRI yang berlandaskan tauhid untuk terlaksananya syariat Islam. Di sinilah titik temu antara gagasan yang dilontarkan pemrakarsa parade Bachtiar Nasir, dengan konsep pemikiran yang pada tahun 1950 telah dipatrikan oleh pimpinan Masyumi sekaligus Perdana Menteri RI Moh. Natsir. [Agus Basri]

———————

PEMESANAN

Tags: , , , ,

Berikan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.